Hajat Tiga Kota

HAJAT TIGA KOTA

Statement Artistik 

 

Makanan tidak hanya penting untuk memenuhi kebutuhan manusia paling utama, namun makanan juga terkait erat dengan kebudayaan, termasuk teknologi, organisasi sosial dan juga kepercayaan masyarakat. Makanan tidak akan memiliki makna apa-apa kecuali ditempatkan dan dilihat dalam konteks kebudayaannya atau jaringan interaksi sosialnya. Barangkali itulah ide dasar yang melatar belakangi kami (Ekstrak Kolektif, Sinau Art, Siku Ruang Terpadu) untuk berkolaborasi dan membuat sebuah pameran daring bertajuk “Hajat Tiga Kota”. 

 

Sedikit bercerita, kami masing-masing berasal dari Jakarta, Cirebon, dan Makassar yang notabene merupakan daerah pesisir. Tumbuh dan berkesenian sebagai masyarakat pesisir memotivasi kami untuk membaca lebih jauh perihal narasi kebudayaan pesisir yang diwakilkan oleh makanan sebagai lokus kajian utama. Mengapa makanan? Seperti yang disinggung di awal paragraf, makanan atau pangan merupakan wujud dari kecerdasan kolektif yang berfungsi sebagai kebutuhan utama makhluk hidup yaitu bertahan hidup. Praktik-praktik dalam membuat alat masak, bagaimana cara mengolah makanan, serta konteks simbolis kehadiran makanan adalah dimensi yang kami coba bicarakan dalam proyek kolaborasi ini. 

 

Akhir kata, “Hajat Tiga Kota” juga mencoba menelaah narasi masyarakat pesisir yang hadir lewat makanan atau pangan yang ditranslasikan menjadi sebuah pameran. Proyek kolaborasi ini juga menjadi momen pertemuan dalam pertukaran pengetahuan dan eksplorasi resep masakan masyarakat pesisir yang kurang populer atau yang hampir hilang.

Menjadi wadah berkesenian nan asyik pada proses, dibentuk oleh seniman lintas kota, lintas disiplin seni. sebagai representasi dan manifestasi dari pengalaman serta praktiknya diwilayah kerja seni kontemporer Indonesia. Ekstrak berfokus menjadi ruang berbagi pengetahuan dan eksperimentasi bagi anggotanya, tentang bagaimana wacana maupun praktik artistik pada seni rupa dan relasinya terhadap budaya kolektif di Indonesia.

 

Dalam pengelolaan proyek/programnya, Ekstrak mengembangkan pola kolaboratif yang menekankan pada distribusi nilai pengetahuan, berjejaring, dan semangat gotong royong sebagai kerja artistik. 

Siku Ruang terpadu yang mewadahi aktivitas seni dan kebudayaan kontemporer di Makassar, Sulawesi Selatan, dan Indonesia Timur. Upaya terpadu ini diinisiasi oleh empat kelompok: Bonfire, Jalur Timur, Nara, dan Ritus. SIKU ingin menajamkan iklim belajar bersama dan berbagi pengetahuan berdasarkan pengalaman dengan pendekatan lintas disiplin. Berspekulasi pada teori dan praktek untuk membuka kemungkinan baru dalam membaca situasi terkini sekaligus membuka jejaring pertemanan dengan kota-kota lainnya. Bereksperimen pada laboratorium multimedia berbasis riset dan pengembangan untuk merespon singgungan antara seni dan teknologi. Bermain-main dalam dinamika seni grafis dan street art tanpa melupakan relevansi dan konteks kehadirannya pada ruang-ruang kota.

Sinau Art adalah lembaga yang bergerak di bidang pendidikan, seni budaya, dan lingkungan hidup, yang berdiri sejak 2006. Sinau art memiliki sumber daya manusia yang mampu melahirkan instruktur, para seniman, dan aktivis seni budaya, serta kader lingkungan hidup. dan lembaga pendidikan non formal pertama di kota Cirebon berbasis seni dan budaya.