Parisan (Payon Arisan)

PARISAN

Parisan secara terminologi diambil dari bahasa Jawa dengan kata dasar warisan, biasa dijadikan kata ungkapan mempercayakan warisan. Selain hal tersebut , Parisan juga singkatan dari “Payon Arisan”.

Payon, sebuah penggabungan kata dari “Paguyuban Online” merupakan sebuah kombinasi kata yang dipilih oleh 21 kolektif seni yang tergabung dalam program Gudskul Studi Kolektif 2020-2021 untuk merepresentasikan keseluruhan perkumpulan kolektif seni ini yang berasal dari berbagai kota di Indonesia. Payon kemudian menjadi wadah untuk mengakomodir berbagai hubungan antar ke -21 kolektif ini, saling berkolaborasi, berjejaring dan menciptakan supporting system.

Berawal dari ide patungan antar anggota Payon dalam men-support untuk kegiatan berkarya dengan pinjaman uang, bahan, tenaga, dan bermacam sumber daya yang lain. Karya hasil kolaborasi Parisan dapat bersifat kolektif seperti pameran, proyek, residensi, dan sebagainya. Selain itu pada dasarnya arisan adalah salah satu perangkat bersosial. Berarti bisa menjadi sebuah kegiatan untuk bertukar pikiran mengenai nilai ekosistem seni dan wacana sosialisasi seni, arti lainnya juga dapat diartikan sebagai media bersilaturahmi dengan kegiatan seni berkeliling.

Wayang Beber Parisan

Wayang Beber adalah wayang yang digambar diatas kain panjang dengan cara menampilkannya digulung kesamping. Karya publikasi Parisan adaptasi dari wayang beber dengan judul “Jangan Sok”. 

Karya ini menceritakan asal usul Payon, adanya Parisan (Payon Arisan), sampai publikasi Akhir Payon. Setiap Kolektif yang tergabung dalam program Studi Kolektif Gudskul 2020-2021 ini mengirimkan Ilustrasi pengenalan kolektif/kesannya terhadap studi ini dalam format gambar, foto dan lainnya, juga mengirimkan rekaman suara untuk tambahan penguat ilustrasi. Ilustrasi akan di kolase menjadi wayang beber oleh tim Parisan.